<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hilyatul Qalam</title>
	<atom:link href="http://hilyatulqalam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hilyatulqalam.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jan 2009 13:04:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hilyatulqalam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hilyatul Qalam</title>
		<link>http://hilyatulqalam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hilyatulqalam.wordpress.com/osd.xml" title="Hilyatul Qalam" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hilyatulqalam.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Semangat Kaligrafi Dalam Misi Islam</title>
		<link>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/22/semangat-kaligrafi-dalam-misi-islam/</link>
		<comments>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/22/semangat-kaligrafi-dalam-misi-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 13:03:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hilyatulqalam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Kaligrafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/22/semangat-kaligrafi-dalam-misi-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Kaligrafi Islam mempunyai kedudukan yang istimewa diantara cabang-cabang seni Islam yang lain. Tidak seperti cabang seni Islam yang lain &#8211; musik, arsitektur misalnya, yang dalam beberapa hal banyak dipengaruhi oleh gaya-gaya lokal dan sejumah seniman non muslim – kaligrafi mencapai puncak keindahannya di tangan-tangan piawai seniman muslim sepenuhnya, tanpa campur tangan pihak lain. Tanpa Islam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hilyatulqalam.wordpress.com&amp;blog=6120535&amp;post=35&amp;subd=hilyatulqalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;">Kaligrafi Islam mempunyai kedudukan yang istimewa diantara cabang-cabang seni Islam yang lain<span style="font-size:13pt;line-height:150%;">. </span>Tidak seperti cabang seni Islam<span style="font-size:13pt;line-height:150%;"> </span>yang lain &#8211; musik, arsitektur misalnya, yang dalam beberapa hal banyak dipengaruhi oleh gaya-gaya lokal dan sejumah seniman non muslim – kaligrafi mencapai puncak keindahannya di tangan-tangan piawai seniman muslim sepenuhnya, tanpa campur tangan pihak lain. Tanpa Islam barangkali huruf Arab tidak akan berarti apa-apa. Hal ini dapat dilihat dari perhatian umat Islam terhadap tulisan yang berawal dari perhatian mereka terhadap al-Qur’an. Wahyu Allah yang turun melalui Nabi Muhammad adalah kalimat suci yang merupakan bahasa Tuhan kepada hamba-Nya. Pertalian langsung antara tulisan dengan nilai-nilai keagamaan yang sakral menjadikan umat Islam selalu termotivasi untuk terus mengembangkannya. Pandangan ini kemudian dipertegas lagi dengan kenyataan bahwa bahasa Arab merupakan satu-satunya bahasa liturgis umat Islam. Tulisan Arab menjadi terangkat fungsi dan statusnya, bukan sekedar sebagai alat komunikasi antar manusia, tetapi juga merupakan tulisan religius yang sakral.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;">Kehadiran Islam dengan berbagai atribut yang dibawanya, telah membawa perubahan besar dan cepat pada perkembangan tradisi Arab. Betapa tidak, ketika orang-orang Arab tengah asyik-masyuk dengan tradisi verbal yang mereka banggakan, wahyu pertama (al-‘Alaq:1-5) yang berisi perintah Tuhan agar membaca, menelaah, menganalisis justru menghentakkan mereka dari tidur panjangnya seolah menjadi “bom” yang menghempaskan idealisme bangsa Arab, sekaligus “proklamasi” kemestian budaya tulis-menulis dalam risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw (baca: Islam). Wahyu pertama itu segera disusul dengan pengertian lain seperti ‘<em>Tuhanmu yang mengajari manusia dengan pena</em>’. Kemudian dalam surat al-Qalam (Pena) (Q.S: 68: 1) Allah berfirman ;<em> ‘Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis’.</em> Di samping itu, pengertian-pengertian simbolis pentingnya tulisan juga terdapat dalam banyak ayat, misalnya al-Qur’an yang tertulis dalam Lauhul Mahfudz (Q.S. 85:21-22), dua malaikat yang mencatat perbuatan manusia (Q.S. 82: 10, 50: 16), pemberian buku catatan perbuatan manusia pada hari akhir kelak (Q.S. 17:73, 10:62, 34:4 dan sebagainya), perumpamaan seluruh pohon di bumi dijadikan pena tidak akan cukup menulis kekuasaan Allah (Q.S.31: 27), dan perumpamaan air laut sebagai tinta yang tidak akan cukup untuk menuliskan kekuasaan Allah meskipun ditambah lagi dengan tujuh kali air laut yang ada di bumi (Q.S. 31:27, 18: 109). Semua ayat diatas merupakan penghargaan yang sangat tinggi terhadap pena, tinta, buku, dan tulisan. Dari sini dapat dipahami bahwa kaligrafi atau tulis-menulis memperoleh asal-usul yang langsung dari Allah lewat firman-firman-Nya. Dalam sejarah perkembangan kaligrafi, nilai-nilai dalam al-Qur’an ini menjadi ruh, spirit bagi para kaligrafer untuk terus mencipta dan berkarya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;">Penghargaan yang demikian tinggi terhadap tulisan juga terdapat dalam beberapa Hadist Nabi. Kata Qalam (pena) misalnya disinggung dalam sebuah hadist tentang nasib manusia yang telah tertulis dan tidak dapat diubah, <em>qad jaffa al-qalam</em> (pena telah kering). Hadist lain mengatakan <em>‘Ajarilah anakmu membaca dan menulis’</em>, serta penjelasan hadist nabi yang merupakan penghargaan terhadap tulisan indah, ‘bahwa siapa yang menulis Bismillahirrahmaniirahim dan memperindahnya, dia akan masuk surga’. Dalam sejarah Islam juga diperoleh keterangan bahwa Nabi mengerahkan para tawanan perang- yang notabene non muslim- untuk mengajari membaca dan menulis anak-anak<span> </span>Madinah. Kecintaan kepada tulis-menulis seperti dicontohkan Nabi akhirnya menjadi tauladan bagi para sahabatnya termasuk Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Budaya tulis-menulis dalam Islam telah memulai sejarahnya dan terbangun kuat sejak masa-masa awal Islam ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">Memandang kaligrafi dari perspektif agama, hal ini juga didukung oleh citra<span> </span>bahwa kaligrafi dalam Islam dipandang sebagai manifestasi semangat religiusitas. Ini bermula dari pernyataan-pernyataan Allah sendiri dalam al-Qur’an dan beberapa Hadist seperti yang dikemukakan di atas. Kualitas religius yang suci ini akhirnya menjadi ciri yang sangat tipikal dalam apresiasi kaligrafi sepanjang peradaban Islam. Melihat betapa dekatnya dunia seni dengan dunia agama dalam visi Islam dan peran besar kaum sufi &#8211; yang turut meniupkan ruh keilahian dalam seni Islam – kaligrafi mencapai puncak keindahannya. Hal ini dikarenakan ia tersembul dari spiritualitas (rohani) yang seimbang, serasi, dan harmonis. Keindahannya bukan muncul dari imajinasi tak terarah atau selera egois senimannya. Dalam kaligrafi Islam tidak ada kesan <em>rebelli</em> (memberontak), yang ada hanya bebas tetapi harmonis, tenteram. Dan keindahannya, keelastisannya adalah peta batin sang kaligrafer yang telah dinafasi oleh ruh religiusitas tertentu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hilyatulqalam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hilyatulqalam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hilyatulqalam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hilyatulqalam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hilyatulqalam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hilyatulqalam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hilyatulqalam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hilyatulqalam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hilyatulqalam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hilyatulqalam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hilyatulqalam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hilyatulqalam.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hilyatulqalam.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hilyatulqalam.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hilyatulqalam.wordpress.com&amp;blog=6120535&amp;post=35&amp;subd=hilyatulqalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/22/semangat-kaligrafi-dalam-misi-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a1c2659ff1abb6f9885395110d90d0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hilyatulqalam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Buku Kaligrafi</title>
		<link>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/buku-kaligrafi/</link>
		<comments>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/buku-kaligrafi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 03:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hilyatulqalam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku Kaligrafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hilyatulqalam.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Jamharoh al-Khutut al-Arabiyah Penulis : Kamil Salman al-Jaburi Penerbit : Dar wa Maktabah al-Hilal, Beirut Negara : Libanon Cetakan/tahun : I/1420 H-2000 M Penjelasan Ringkas : Berbahan kertas Art Paper dengan ketebalan 599 halaman, buku Jamharotul Khutut al-Arabiyah merupakan salah satu buku ensiklopedi kaligrafi Islam yang berisi kumpulan kaligrafi para master kaligrafi dunia. Memuat karya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hilyatulqalam.wordpress.com&amp;blog=6120535&amp;post=32&amp;subd=hilyatulqalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID"><strong>Jam</strong></span><span lang="id-ID"><strong>haroh 	al-Khutut al-Arabiyah</strong></span></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Penulis			: Kamil Salman al-Jaburi</p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;"><span lang="id-ID">Penerbit		: Dar wa Maktabah al-Hilal, Beirut</span></p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Negara			: Libanon</p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;"><span lang="id-ID">Cetakan/tahun		: I/1420 H-2000 M</span></p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Penjelasan Ringkas	:</p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Berbahan kertas Art Paper dengan ketebalan 599 halaman, buku </span><span lang="id-ID">Jamharotul Khutut al-Arabiyah merupakan salah satu buku ensiklopedi kaligrafi Islam yang berisi kumpulan kaligrafi para master kaligrafi dunia. Memuat karya kaligrafi dengan berbagai jenis khat (Naskhi, Tsulus, Diwani, Diwani Jali, Kufi, Riq’ah, Farisi, Muhaqqaq). Sangat cocok untuk referensi dalam belajar dan meneliti kaligrafi Islam. </span></p>
<p style="margin-left:1.27cm;text-indent:-1.27cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Ushul 	al-Khot al-Arabi</strong></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Penulis			: Kamil Salman al-Jaburi</p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;"><span lang="id-ID">Penerbit			: Dar wa Maktabah al-Hilal, Beirut</span></p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Negara			: Libanon</p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;"><span lang="id-ID">Cetakan/tahun		: I/1420 H-2000 M</span></p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Penjelasan Ringkas	:</p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Dengan ketebalan 328 halaman, b</span><span lang="id-ID">uku Ushul al-Khot al-Arabi merupakan salah satu buku kaligrafi Islam yang menjelaskan tentang pengertian, sejarah dan perkembangan kaligrafi Arab secara panjang lebar. Dilengkapi dengan kumpulan karya-karya master kaligrafi Islam dalam berbagai jenis khat.</span></p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Mausu’ah 	Khot Diwani</strong></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Penulis			: Kamil Salman al-Jaburi</p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Penerbit			: Dar wa Maktabah al-Hilal, Beirut</p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Negara			: Libanon</p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Cetakan/tahun		: I/1420 H-2000 M</p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Penjelasan Ringkas	:</p>
<p style="margin-left:.7cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Dengan ketebalan 160 halaman, b</span><span lang="id-ID">uku Mausu’ah Khot Diwani tersebut menjelaskan tentang khat Diwani dan pembagiannya serta master kaligrafi secara ringkas. Kemudian dilengkapi dengan contoh-contoh karya khusus khat Diwani untuk acuan dalam belajar kaligrafi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Koleksi 	Karya Master Kaligrafi Islam</strong></p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.6cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Penulis			: Drs. HD. Sirojuddin, AR, M.Ag</p>
<p style="margin-left:.6cm;margin-bottom:0;"><span lang="id-ID">Penerbit		: Darul Ulum Press, Jakarta</span></p>
<p style="margin-left:.6cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Negara			: Indonesia</p>
<p style="margin-left:.6cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Cetakan/tahun		: I/1429H-2007 M</p>
<p style="margin-left:.6cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID">Penjelasan Ringkas	:</p>
<p style="margin-left:.6cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Dengan ketebalan 574 halaman, b</span><span lang="id-ID">uku</span><span lang="id-ID"><strong> </strong></span><span lang="id-ID">Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam merupakan buku Ensiklopedia Kaligrafi Islam pertama di Indonesia yang memuat kumpulan karya master kaligrafi, baik dunia maupun Indonesia. Dibandingkan buku-buku kaligrafi yang pernah terbit sebelumnya buku ini menawarkan data karya dan penulisnya secara lebih lengkap, disertai pembagian jenis kaligrafi secara lebih detail.</span></p>
<p style="margin-left:.6cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">
<p style="margin-left:1.31cm;text-indent:-.04cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hilyatulqalam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hilyatulqalam.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hilyatulqalam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hilyatulqalam.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hilyatulqalam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hilyatulqalam.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hilyatulqalam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hilyatulqalam.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hilyatulqalam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hilyatulqalam.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hilyatulqalam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hilyatulqalam.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hilyatulqalam.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hilyatulqalam.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hilyatulqalam.wordpress.com&amp;blog=6120535&amp;post=32&amp;subd=hilyatulqalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/buku-kaligrafi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a1c2659ff1abb6f9885395110d90d0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hilyatulqalam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Master Kaligrafi Islam</title>
		<link>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/master-kaligrafi-islam/</link>
		<comments>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/master-kaligrafi-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 03:48:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hilyatulqalam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Master Kaligrafi]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi]]></category>
		<category><![CDATA[Master]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hilyatulqalam.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Master Kaligrafi yang memberi sumbangan besar bagi perkembangan kaligrafi sehingga mencapai bentuk kesempurnaannya adalah : Ibnu Muqlah Ibnu Bawab Yaqut al-Musta’shimi Syeikh Hamdullah al-Amasi Hafidz Usman Musthafa al-Raqim Hamid al-Amidi Hasyim Muhammad al-Baghdadi Sedangkan Kaligrafer wanita yang turut mengembangkan dan melestarikan kaligrafi Islam diantaranya : Asma’ ‘Abarat Binti Ahmad Agha Asma’ Binti Ahmad Umu Kultsum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hilyatulqalam.wordpress.com&amp;blog=6120535&amp;post=29&amp;subd=hilyatulqalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-indent:.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">Master Kaligrafi yang memberi sumbangan besar bagi perkembangan kaligrafi sehingga mencapai bentuk kesempurnaannya adalah :</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Ibnu Muqlah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Ibnu Bawab</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Yaqut al-Musta’shimi</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Syeikh Hamdullah 	al-Amasi</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Hafidz Usman</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID">Musthafa 	al-Raqim</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Hamid al-Amidi</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Hasyim Muhammad 	al-Baghdadi</p>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.03cm;margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">Sedangkan Kaligrafer wanita yang turut mengembangkan dan melestarikan kaligrafi Islam diantaranya :</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Asma’ ‘Abarat 	Binti Ahmad Agha</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Asma’ Binti Ahmad</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Umu Kultsum Binti 	‘Uqbah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Syafa Binti Abdullah 	al-‘Adwiyah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Badisyah Khotun Binti 	Muhammad Bin Hamid Tabtaku</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Bazam ‘Alim</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Binti Khodawaridi</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Tsana’ Jariyah 	Binti Fayuma</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Jariyah Abi Abdullah 	al-Kanani</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Jihan Binti Qasim 	Sulaiman al-Qajari (w. 1290 H)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Hafidzah Binti 	Muhammad Said</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Hafsah Binti Umar Bin 	Khattab ra</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Halimah Binti 	Muhammad Sadiq</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Khadijah Binti Usman 	Bin Muhammad al-Huri</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Khadijah Binti 	Muhammad Bin Ahmad</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Khadijah Binti Yusuf 	Bin Ghanimah al-Baghdadi</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Khadijah Binti Mahmud 	al-Mufti</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Daroh Hanim</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Rusdiyah Hanim</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Zainab al-Malqabah 	Basyahdah ad-Dainuriyah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Katib Sultan 	Malkasyah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Zahidah Hanim Karimah 	Ali Basya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID">Zaujah Sara</span><span lang="id-ID">dara 	Abdul Qudus Khona Mu’tamid Daulah al-Afghoniyah </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Sita Ridho Binti 	Nasrullah Bin Mas’ud</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Sita Wizara’ Binti 	Muhammad Bin Abdul Karim</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Sa’dunah Umu Said 	Binti ‘Isham al-Hamiri al-Qarthabiyah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID">Salma Binti 	Muhammad Bin Muhammad al-Jazari</span><span lang="id-ID"> (Umu 	al-Khair)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Sayidah Binti Abdul 	Ghani Bin Ali al-‘Abdari</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Syajarah Dura Umu 	Khalil Shalihah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Sarah Kholbiyah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Sofiyah Binti 	Abdullah ar-Rabbi</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Aidah Binti Muhammad 	al-Jahniyah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Aisyah Binti Muhammad 	al-Qarthabiyah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Aisyah ‘Ashimat 	Binti Ismail Taimur</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID">Aisyah Binti 	‘Imarah Bin Yahya Bin ‘Imarah as-Syarif al-Hasaini </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID">Azizah Binti 	Qasim Bin Qathalu Bagha al-Hanafi</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">‘Alamul Madinah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Fatimah Ani Syahri</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Fatimah Binti Ibrahim</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Fatimah al-Baghdadi</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Fatimah Binti Ahmad 	Bin Ali al-Baghdadi</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Fatimah Binti Hasan 	Bin Ali al-Aqra’</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Fatimah Binti 	Zakariya Bin Abdullah asy-Syablari</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Fatimah Binti Abdul 	Qadir Bin Muhammad Bin Usman</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Fatimah Binti 	Muhammad Bin ahmad as-Samarqandi</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Fatimah al-‘Ajuz</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Farwah Binti Aisyah 	Binti Said</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Fatonah Binti Ahmad 	Basya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Karimah Binti 	al-Miqdad</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Kulstum Binti Umar 	Bin Shalih Nabilasiyah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Kauhar Syada Binti 	Mir ‘Imad</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Lubna Katibah 	al-Mustanshir Billah al-Abbasi</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Maznah Katibah 	Khalifah an-Nashir Lidinillah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID">Waraqa Binti Naitab</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="id-ID">Wardah </span><span lang="id-ID">Binti 	Naqula Bin Yusuf Bin Nasif at-Turki</span></p>
</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hilyatulqalam.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hilyatulqalam.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hilyatulqalam.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hilyatulqalam.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hilyatulqalam.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hilyatulqalam.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hilyatulqalam.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hilyatulqalam.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hilyatulqalam.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hilyatulqalam.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hilyatulqalam.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hilyatulqalam.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hilyatulqalam.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hilyatulqalam.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hilyatulqalam.wordpress.com&amp;blog=6120535&amp;post=29&amp;subd=hilyatulqalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/master-kaligrafi-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a1c2659ff1abb6f9885395110d90d0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hilyatulqalam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Perkembangan Kaligrafi di Indonesia</title>
		<link>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/sejarah-perkembangan-kaligrafi-di-indonesia/</link>
		<comments>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/sejarah-perkembangan-kaligrafi-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 03:40:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hilyatulqalam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah dan Perkembangan Kaligrafi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi]]></category>
		<category><![CDATA[Perkembangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hilyatulqalam.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia, kaligrafi merupakan bentuk seni budaya Islam yang pertama kali ditemukan, bahkan ia menandai masuknya Islam di Indonesia. Ungkapan rasa ini bukan tanpa alasan karena berdasarkan hasil penelitian tentang data arkeologi kaligrafi Islam yang dilakukan oleh Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary, kaligrafi gaya Kufi telah berkembang pada abad ke-11, datanya ditemukan pada batu nisan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hilyatulqalam.wordpress.com&amp;blog=6120535&amp;post=23&amp;subd=hilyatulqalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Di Indonesia, kaligrafi merupakan bentuk seni budaya Islam yang pertama kali ditemukan, bahkan ia menandai masuknya Islam di Indonesia. Ungkapan rasa ini bukan tanpa alasan karena berdasarkan hasil penelitian tentang data arkeologi kaligrafi Islam yang dilakukan oleh Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary, kaligrafi gaya Kufi telah berkembang pada abad ke-11, datanya ditemukan pada batu nisan makam Fatimah binti Maimun di Gresik (wafat 495 H/1082 M) dan beberapa makam lainnya dari abad-abad ke-15. Bahkan diakui pula sejak kedatangannya ke Asia Tenggara dan Nusantara, disamping dipakai untuk penulisan batu nisan pada makam-makam, huruf Arab tersebut (baca: kaligrafi) memang juga banyak dipakai untuk tulisan-tulisan materi pelajaran, catatan pribadi, undang-undang, naskah perjanjian resmi dalam bahasa setempat, dalam mata uang logam, stempel, kepala surat, dan sebagainya. Huruf Arab yang dipakai dalam bahasa setempat tersebut diistilahkan dengan huruf Arab Melayu, Arab Jawa atau Arab Pegon.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada abad XVIII-XX, kaligrafi beralih menjadi kegiatan kreasi seniman Indonesia yang diwujudkan dalam aneka media seperti kayu, kertas, logam, kaca, dan media lain. Termasuk juga untuk penulisan mushaf-mushaf al-quran tua dengan bahan kertas <em>deluang</em> dan kertas murni yang diimpor. Kebiasaan menulis al-Qur’an telah banyak dirintis oleh banyak ulama besar di pesantren-pesantren semenjak akhir abad XVI, meskipun tidak semua ulama atau santri yang piawai menulis kalgrafi dengan indah dan benar. Amat sulit mencari seorang khattat yang ditokohkan di penghujung abad XIX atau awal abad XX, karena tidak ada guru kaligrafi yang mumpuni dan tersedianya buku-buku pelajaran yang memuat kaidah penulisan kaligrafi. Buku pelajaran tentang kaligrafi pertama kali baru keluar sekitar tahun 1961 karangan Muhammad Abdur Razaq Muhili berjudul ‘Tulisan Indah’ serta karangan Drs. Abdul Karim Husein berjudul ‘Khat, Seni Kaligrafi: Tuntunan Menulis Halus Huruf Arab’ tahun 1971.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong> </strong>Pelopor angkatan pesantren baru menunjukkan sosoknya lebih nyata dalam kitab-kiab atau buku-buku agama hasil goresan tangan mereka yang banyak di tanah air. Para tokoh tersebut antara lain; K.H. Abdur Razaq Muhili, H. Darami Yunus, H. Salim Bakary, H.M. Salim Fachry dan K.H. Rofi’I Karim. Angkatan yang menyusul kemudian sampai angkatan generasi paling muda dapat disebutkan antara lain Muhammad Sadzali (murid Abdur Razaq), K. Mahfudz dari Ponorogo, Faih Rahmatullah, Rahmat Ali, Faiz Abdur Razaq dan Muhammad Wasi’ Abdur Razaq, H. Yahya dan Rahmat Arifin dari Malang, D. Sirojuddin dari Kuningan, M. Nur Aufa Shiddiq dari Kudus, Misbahul Munir dari Surabaya, Chumaidi Ilyas dari Bantul dan lainnya. D. Sirajuddin AR selanjutnya aktif menulis buku-buku kaligrafi danmengalihkan kreasinya pada lukisan kaligrafi.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam perkembangan selanjutnya, kaligrafi tidak hanya dikembangkan sebatas tulisan indah yang berkaidah, tetapi juga mulai dikembangkan dalam konteks kesenirupaan atau <em>visual art</em>. Dalam konteks ini kaligrafi menjadi jalan namun bukan pelarian bagi para seniman lukis yang ragu untuk menggambar makhluk hidup. Dalam aspek kesenirupaan, kaligrafi memiliki keunggulan pada faktor fisioplastisnya, pola geometrisnya, serta lengkungan ritmisnya yang luwes sehingga mudah divariasikan dan menginspirasi secara terus-menerus.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kehadiran kaligrafi yang bernuansa lukis mulai muncul pertama kali sekitar tahun 1979 dalam ruang lingkup nasional pada pameran Lukisan Kaligrafi Nasional pertama bersamaan dengan diselenggarakannya MTQ Nasional XI di Semarang, menyusul pameran pada Muktamar pertama Media Massa Islam se-Dunia than 1980 di Balai Sidang Jakarta dan Pameran pada MTQ Nasional XII di Banda Aceh tahun 1981, MTQ Nasional di Yogyakarta tahun 1991, Pameran Kaligrafi Islam di Balai Budaya Jakarta dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah 1405 (1984) dan pameran lainnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Para pelukis yang mempelpori kaligrafi lukis adalah Prof. Ahmad Sadali (Bandung asal Garut), Prof. AD. Pirous (Bandung, asal Aceh), Drs. H. Amri Yahya (Yogyakarta, asal Palembang), dan H. Amang Rahman (Surabaya), dilanjutkan oleh angkatan muda seperti Saiful Adnan, Hatta Hambali, Hendra Buana dan lain-lain. Mereka hadir dengan membawa pembaharuan bentuk-bentuk huruf dengan dasar-dasar anatomi yang menjauhkannya dari kaedah-kaedah aslinya, atau menawarkan pola baru dalam tata cara mendesain huruf-huruf yang berlainan dari pola yang telah dibakukan. Kehadiran seni lukis kaligrafi tidak urung mendapat berbagai tanggapan dan reaksi, bahkan reaksi itu seringkali keras dan menjurus pada pernyataan perang. Namun apapun hasil dari reaksi tersebut, kehadiran seni lukis kaligrafi dianggap para khattat sendiri membawa banyak hikmah, antara lain menimbulkan kesadaran akan kelemahan para khattat selama ini, kurang wawasan teknik, kurang mengenal ragam-ragam media dan terlalu lama terisolasi dari penampilan di muka khalayak. Kekurangan mencolok para khattat, setelah melihat para pelukis mengolah karya mereka adalah kelemahan tentang melihat bahasa rupa yang ternyata lebih atau hanya dimiliki para pelukis.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perkembangan lain dari kaligrafi di Indonesia adalah dimasukkan seni ini menjadi salah satu cabang yang dilombakan dalam even MTQ. Pada awalnya dipicu oleh sayembara kaligrafi pada MTQ Nasional XII 1981 di Banda Aceh dan MTQ Nasional XIII di Padang 1983. Sayembara tersebut pada akhirnya dipandang kurang memuaskan karena sistemnya adalah mengirimkan hasil karya khat langsung kepada panitia MTQ, sedangkan penulisannya di tempat masing-masing peserta. MTQ Nasional XIV di Pontianak meniadakan sayembara dan MTQ tahun selanjutnya kaligrafi dilombakan di tempat MTQ.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hilyatulqalam.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hilyatulqalam.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hilyatulqalam.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hilyatulqalam.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hilyatulqalam.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hilyatulqalam.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hilyatulqalam.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hilyatulqalam.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hilyatulqalam.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hilyatulqalam.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hilyatulqalam.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hilyatulqalam.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hilyatulqalam.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hilyatulqalam.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hilyatulqalam.wordpress.com&amp;blog=6120535&amp;post=23&amp;subd=hilyatulqalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/sejarah-perkembangan-kaligrafi-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a1c2659ff1abb6f9885395110d90d0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hilyatulqalam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Perkembangan Kaligrafi di Dunia Islam</title>
		<link>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/sejarah-perkembangan-kaligrafi-di-dunia-islam/</link>
		<comments>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/sejarah-perkembangan-kaligrafi-di-dunia-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 03:33:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hilyatulqalam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah dan Perkembangan Kaligrafi]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi]]></category>
		<category><![CDATA[Perkembangan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hilyatulqalam.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa Arab diakui sebagai bangsa yang sangat ahli dalam bidang sastra, dengan sederet nama-nama sastrawan beken pada masanya, namun dalam hal tradisi tulis-menulis (baca: khat) masih tertinggal jauh bila dibandingkan beberapa bangsa di belahan dunia lainnya yang telah mencapai tingkat kualitas tulisan yang sangat prestisius. Sebut saja misalnya bangsa Mesir dengan tulisan Hierogliph, bangsa India [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hilyatulqalam.wordpress.com&amp;blog=6120535&amp;post=17&amp;subd=hilyatulqalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Bangsa Arab diakui sebagai bangsa yang sangat ahli dalam bidang sastra, dengan sederet nama-nama sastrawan beken pada masanya, namun dalam hal tradisi tulis-menulis (baca: khat) masih tertinggal jauh bila dibandingkan beberapa bangsa di belahan dunia lainnya yang telah mencapai tingkat kualitas tulisan yang sangat prestisius. Sebut saja misalnya <span id="more-17"></span>bangsa Mesir dengan tulisan <em>Hierogliph</em>, bangsa India dengan <em>Devanagari</em>, bangsa Jepang dengan aksara <em>Kaminomoji</em>, bangsa Indian dengan <em>Azteka</em>, bangsa Assiria dengan <em>Fonogram/Tulisan Paku</em>, dan pelbagai negeri lain sudah terlebih dahulu memiliki jenis huruf/aksara. Keadaan ini dapat dipahami mengingat Bangsa Arab adalah bangsa yang hidupnya <em>nomaden</em> (berpindah-pindah) yang tidak mementingkan keberadaan sebuah tulisan, sehingga tradisi lisan (komuniksai dari mulut kemulut) lebih mereka sukai, bahkan beberapa diantara mereka tampak anti huruf. Tulisan baru dikenal pemakaiannya pada masa menjelang kedatangan Islam dengan ditandai pemajangan <em>al-Mu’alaqat</em> (syair-syair <em>masterpiece</em> yang ditempel di dinding Ka’bah).</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pembentukan huruf abjad Arab sehingga menjadi dikenal pada masa-masa awal Islam memakan waktu berabad-abad. Inskripsi Arab Utara bertarikh 250 M, 328 M dan 512 M menunjukkan kenyataan tersebut. Dari inskripsi-inskripsi yang ada, dapat ditelusuri bahwa huruf Arab berasal dari huruf Nabati yaitu huruf orang-orang Arab Utara yang masih dalam rumpun Smith yang terutama hanya menampilkan huruf-huruf mati. Dari masyarakat Arab Utara yang mendiami Hirah dan Anbar tulisan tersebut berkembang pemakaiannya ke wilayah-wilayah selatan Jazirah Arab.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">Perkembangan Kaligrafi Periode Bani Umayyah (661-750 M)</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Beberapa ragam kaligrafi awalnya dikembangkan berdasarkan nama kota tempat dikembangkannya tulisan. Dari berbagai karakter tulisan hanya ada tiga gaya utama yang berhubungan dengan tulisan yang dikenal di Makkah dan Madinah yaitu <em>Mudawwar</em> (bundar), <em>Mutsallats</em> (segitiga), dan <em>Ti’im</em> (kembar yang tersusun dari segitiga dan bundar). Dari tiga inipun hanya dua yang diutamakan yaitu gaya kursif dan mudah ditulis yang disebut gaya <em>Muqawwar</em> berciri lembut, lentur dan gaya <em>Mabsut</em> berciri kaku dan terdiri goresan-goresan tebal (rectilinear). Dua gaya inipun menyebabkan timbulnya pembentukan sejumlah gaya lain lagi diantaranya <em>Mail</em> (miring), <em>Masyq</em> (membesar) dan <em>Naskh</em> (inskriptif). Gaya <em>Masyq</em> dan <em>Naskh</em> terus berkembang, sedangkan <em>Mail</em> lambat laun ditinggalkan karena kalah oleh perkembangan <em>Kufi</em>. Perkembangan Kufi pun melahirkan beberapa variasi baik pada garis vertikal maupun horizontalnya, baik menyangkut huruf-huruf maupun hiasan ornamennya. Muncullah gaya <em>Kufi Murabba’</em> (lurus-lurus), <em>Muwarraq</em> (berdekorasi daun), <em>Mudhaffar</em> (dianyam), <em>Mutarabith Mu’aqqad</em> (terlilit berkaitan) dan lainnya. Demikian pula gaya kursif mengalami perkembangan luar biasa bahkan mengalahkan gaya Kufi, baik dalam hal keragaman gaya baru maupun penggunannya, dalam hal ini penyalinan al-Qur’an, kitab-kitab agama, surat-menyurat dan lainnya.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Diantara kaligrafer Bani Umayyah yang termasyhur mengembangkan tulisan kursif adalah Qutbah al-Muharrir. Ia menemukan empat tulisan yaitu <em>Thumar, Jalil, Nisf,</em> dan <em>Tsuluts</em>. Keempat tulisan ini saling melengkapi antara satu gaya dengan gaya lain sehingga menjadi lebih sempurna. Tulisan Thumar yang berciri tegak lurus ditulis dengan pena besar pada tumar-tumar (lembaran penuh, gulungan kulit atau kertas) yang tidak terpotong. Tulisan ini digunakan untuk komunikasi tertulis para khalifah kepada amir-amir dan penulisan dokumen resmi istana. Sedangkan tulisan Jalil yang berciri miring digunakan oleh masyarakat luas.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Sejarah perkembangan periode ini tidak begitu banyak terungkap oleh karena khilafah pelanjutnya yaitu Bani Abbasiyah telah menghancurkan sebagian besar peninggalan-peninggalannya demi kepentingan politis. Hanya ada beberapa contoh tulisan yang tersisa seperti prasasti pembangunan Dam yang dibangun Mu’awiyah, tulisan di Qubbah Ash-Shakhrah, inskripsi tulisan Kufi pada sebuah kolam yang dibangun Khalifah Hisyam dan lain-lain.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perkembangan Kaligrafi Periode Bani Abbasiyah (750-1258 M)</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong> </strong>Gaya dan teknik menulis kaligrafi semakin berkembang terlebih pada periode ini semakin banyak kaligrafer yang lahir, diantaranya Ad-Dahhak ibn ‘Ajlan yang hidup pada masa Khalifah Abu Abbas As-Shaffah (750-754 M), dan Ishaq ibn Muhammad pada masa Khalifah al-Manshur (754-775 M) dan al-Mahdi (775-786 M). Ishaq memberi kontribusi yang besar bagi pengembangan tulisan Tsuluts dan Tsulutsain dan mempopulerkan pemakaiannya. Kemudian kaligrafer lain yaitu Abu Yusuf as-Sijzi yang belajar Jalil kepada Ishaq. Yusuf berhasil menciptakan huruf yang lebih halus dari sebelumnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Adapun kaligrafer periode Bani Abbasiyah yang tercatat sebagai nama besar adalah Ibnu Muqlah yang pada masa mudanya belajar kaligrafi kepada Al-Ahwal al-Muharrir. Ibnu Muqlah berjasa besar bagi pengembangan tulisan kursif karena penemuannya yang spektakuler tentang rumus-rumus geometrikal pada kaligrafi yang terdiri dari tiga unsur kesatuan baku dalam pembuatan huruf yang ia tawarkan yaitu : <em>titik, huruf alif,</em> dan <em>lingkaran</em>. Menurutnya setiap huruf harus dibuat berdasarkan ketentuan ini dan disebut <em>al-Khat al-Mansub </em>(tulisan yang berstandar). Ia juga mempelopori pemakaian enam macam tulisan pokok (<em>al-Aqlam as-Sittah</em>) yaitu Tsuluts, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riqa’, dan Tauqi’ yang merupakan tulisan kursif. Tulisan Naskhi dan Tsuluts menjadi populer dipakai karena usaha Ibnu Muqlah yang akhirnya bisa menggeser dominasi khat <em>Kufi</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Usaha Ibnu Muqlah pun dilanjutkan oleh murid-muridnya yang terkenal diantaranya Muhammad ibn As-Simsimani dan Muhammad ibn Asad. Dari dua muridnya ini kemudian lahir kaligrafer bernama Ibnu Bawwab. Ibnu Bawwab mengembangkan lagi rumus yang sudah dirintis oleh Ibnu Muqlah yang dikenal dengan<em> Al-Mansub Al-Faiq</em> (huruf bersandar yang indah). Ia mempunyai perhatian besar terhadap perbaikan khat Naskhi dan Muhaqqaq secara radikal. Namun karya-karyanya hanya sedikit yang tersisa hingga sekarang yaitu sebuah al-Qur’an dan fragmen duniawi saja.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada masa berikutnya muncul Yaqut al-Musta’simi yang memperkenalkan metode baru dalam penulisan kaligrafi secara lebih lembut dan halus lagi terhadap enam gaya pokok yang masyhur itu. Yaqut adalah kaligrafer besar di masa akhir Daulah Abbasiyah hingga runtuhnya dinasti ini pada tahun 1258 M karena serbuan tentara Mongol.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pemakaian kaligrafi pada masa Daulah Abbasiyah menunjukkan keberagaman yang sangat nyata, jauh bila dibandingkan dengan masa Umayyah. Para kaligrafer Daulah Abbasiyah sangat ambisius menggali penemuan-penemuan baru atau mendeformasi corak-corak yang tengah berkembang. Karya-karya kaligrafi lebih dominan dipakai sebagai ornamen dan arsitektur oleh Bani Abbasiyah daripada Bani Umayyah yang hanya mendominasi unsur ornamen floral dan geometrik yang mendapat pengaruh kebudayaan Hellenisme dan Sasania.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perkembangan Kaligrafi Periode Lanjut</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong> </strong>Selain di kawasan negeri Islam bagian timur (<em>al-Masyriq</em>) yang membentang di sebelah timur Libya termasuk Turki, dikenal juga kawasan bagian barat dari negeri Islam (<em>al-Maghrib</em>) yang terdiri dari seluruh negeri Arab sebelah barat Mesir, termasuk Andalusia (Spanyol Islam). Kawasan ini memunculkan bentuk kaligrafi yang berbeda. Gaya kaligrafi yang berkembang dominan adalah Kufi Maghribi yang berbeda dengan gaya di Baghdad (Irak). Sistem penulisan yang ditemukan oleh Ibnu Muqlah juga tidak sepenuhnya diterima, sehingga gaya tulisan kursif yang ada bersifat konservatif.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Sementara bagi kawasan Masyriq, setelah kehancuran Daulah Abbasiyah oleh tentara Mongol dibawah Jengis Khan dan puteranya Hulagu Khan, perkembangan kaligrafi dapat segera bangkit kembali tidak kurang dari setengah abad. Oleh Ghazan cucu Hulagu Khan yang telah memeluk agama Islam, tradisi kesenian pun dibangun kembali. Penggantinya yaitu Uljaytu juga meneruskan usaha Ghazan, ia memberikan dorongan kepada kaum terpelajar dan seniman untuk berkarya. Seni kaligrafi dan hiasan al-Qur’an pun mencapai puncaknya. Dinasti ini memiliki beberapa kaligrafer yang dibimbing Yaqut seperti Ahmad al-Suhrawardi yang menyalin al-Quran dalam gaya Muhaqqaq tahun 1304, Mubarak Shah al-Qutb, Sayyid Haydar, Mubarak Shah al-Suyufi dan lain-lain.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dinasti Il-Khan yang bertahan sampai akhir abad ke-14 digantikan oleh Dinasti Timuriyah yang didirikan Timur Leng. Meskipun dikenal sebagai pembinasa besar, namun setelah ia masuk Islam kaum terpelajar dan seniman mendapat perhatian yang istimewa. Ia mempunyai perhatian besar terhadap kaligrafi dan memerintahkan penyalinan al-Qur’an. Hal ini dilanjutkan oleh puteranya Shah Rukh. Diantara ahli kaligrafi pada masa ini adalah Muhammad al-Tughra’I yang menyalin al-Qur’an bertarih 1408 daam gaya Muhaqqaq emas. Dan putera Shah Rukh sendiri yang bernama Ibrahim Sulthan menjadi salah seorang kaligrafer terkemuka.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dinasti Timuriyah mengalami kemunduran menjelang abad ke-15 dan segera digantikan oleh Dinasti Safawiyah yang bertahan di Persia dan Irak sampai tahun 1736. pendirinya Shah Ismail dan penggantinya Shah Tahmasp mendorong perumusan dan pengembangan gaya kaligrafi baru yang disebut Ta’liq yang sekarang dikenal khat Farisi. Gaya baru yang dikembangkan dari Ta’liq adalah Nasta’liq yang mendapat pengaruh dari Naskhi. Tulisan Nasta’liq ahkirnya menggeser Naskhi dan menjadi tulisan yang biasa digunakan untuk menyalin sastra Persia.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Di Kawasan India dan Afganistan berkembang kaligrafi yang lebih bernuansa tradisional. Gaya Behari muncul di India pada abad ke-14 yang bergaris horisontal tebal memanjang yang kontras dengan garis vertikalnya yang ramping. Sedangkan di kawasan Cina memperlihatkan corak yang khas lagi, dipengaruhi tarikan kuas penulisan huruf Cina yang lazim disebut gaya <em>Shini</em>. Gaya ini mendapat pengaruh dari tulisan yang berkembang di India dan Afganistan. Tulisan Shini biasa ditorehkan di keramik dan tembikar.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam perkembangan selanjutnya, wilayah Arab diperintah oeh Dinasti Utsmaniyah (Ottoman) di Turki. Perkembangan kaligrafi sejak masa dinasti ini hingga perkembangan terakhirnya selalu terkait dengan dinasti Utsmaniyah Turki. Perkembangan kaligrafi pada masa Utsmaniyah ini memperlihatkan gairah yang luar biasa. Kecintaan kaligrafi tidak hanya pada kalangan terpelajar dan seniman tetapi juga beberapa sultan bahkan dikenal juga sebagai kaligrafer. Mereka tidak segan-segan untuk merekrut ahli-ahli dari negeri musuh seperti Persia, maka gaya Farisi pun dikembangkan oleh dinasti ini. Adapun kaligrafer yang dipandang sebagai kaligrafer besar pada masa dinasti ini adalah Syaikh Hamdullah al-Amasi yang melahirkan beberapa murid, salah satunya adalah Hafidz Usman. Perkembangan kaligrafi Turki sejak awal pemerintahan Utsmaniyah melahirkan sejumlah gaya baru yang luar biasa indahnya, berpatokan dengan gaya kaligrafi yang dikembangkan di Baghdad jauh sebelumnya. Yang paling penting adalah <em>Syikastah, Syikastah-amiz, Diwani, </em>dan<em> Diwani Jali</em>. Syikastah (bentuk patah) adalah gaya yang dikembangkan dari Ta’liq an Nasta’liq awal. Gaya ini biasanya dipakai untuk keperluan-keperluan praktis. Gaya Diwani pun pada mulanya adalah penggayaan dari Ta’liq. Tulisan ini dikembangkan pada akhir abad ke-15 oleh Ibrahim Munif, yang kemudian disempurnakan oleh Syaikh Hamdullah. Gaya ini benar-benar kursif, dengan garis yang dominan melengkung dan bersusun-susun. Diwani kemudian dikembangkan lagi dan melahirkan gaya baru yang lebih monumental disebut Diwani Jali, yang juga dikenal sebagai <em>Humayuni</em> (kerajaan). Gaya ini sepenuhnya dikembangkan oleh Hafidz Usman dan para muridnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hilyatulqalam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hilyatulqalam.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hilyatulqalam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hilyatulqalam.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hilyatulqalam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hilyatulqalam.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hilyatulqalam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hilyatulqalam.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hilyatulqalam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hilyatulqalam.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hilyatulqalam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hilyatulqalam.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hilyatulqalam.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hilyatulqalam.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hilyatulqalam.wordpress.com&amp;blog=6120535&amp;post=17&amp;subd=hilyatulqalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/sejarah-perkembangan-kaligrafi-di-dunia-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a1c2659ff1abb6f9885395110d90d0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hilyatulqalam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengertian Kaligrafi</title>
		<link>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/pengertian-kaligrafi/</link>
		<comments>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/pengertian-kaligrafi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 03:24:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hilyatulqalam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah dan Perkembangan Kaligrafi]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengertian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hilyatulqalam.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Secara bahasa perkataan kaligrafi merupakan penyederhanaan dari “calligraphy” (kosa kata bahasa Inggris). Kata ini diadopsi dari bahasa Yunani, yang diambil dari kata kallos berarti beauty (indah) dan graphein : to write (menulis) berarti tulisan atau aksara, yang berarti: tulisan yang indah atau seni tulisan indah. Dalam bahasa Arab kaligrafi disebut khat yang berarti garis. Secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hilyatulqalam.wordpress.com&amp;blog=6120535&amp;post=14&amp;subd=hilyatulqalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Secara bahasa perkataan kaligrafi merupakan penyederhanaan dari “calligraphy” (kosa kata bahasa Inggris). Kata ini diadopsi dari bahasa Yunani, yang diambil dari kata <em>kallos</em> berarti beauty (indah) dan <em>graphein</em> : to write (menulis) berarti tulisan atau aksara, yang berarti: tulisan yang indah atau seni tulisan indah. Dalam bahasa Arab kaligrafi disebut<span id="more-14"></span> <em>khat</em> yang berarti garis.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Secara istilah dapat diungkapkan, “calligraphy is handwriting as an art, to some calligraphy will mean formal penmanship, distinguish from writing only by its exellents quality” (kaligrafi adalah tulisan tangan sebagai karya seni, dalam beberapa hal yang dimaksud kaligrafi adalah tulisan formal yang indah, perbedaannya dengan tulisan biasa adalah kualitas keindahannya). Ada juga ungkapan lain, seperti Hakim al-Rum mengatakan : Kaligrafi adalah geometri spiritual dan diekspresikan dengan perangkat fisik. Sementara Hakim al-Arab menuturkan kaligrafi adalah pokok dalam jiwa dan diekspresikan dengan indra indrawi. Batasan-batasan tersebut seiring pula dengan yang diungkapkan oleh Yaqut al-Musta’shimi bahwa kaligrafi adalah geometri rohaniah yang dilahirkan dengan alat-alat jasmaniah. Sementara Ubaidillah ibn Abbas mengistilahkan kaligrafi dengan <em>lisan al-yadd</em> atau lidahnya tangan. Dan masih banyak lagi terminologi kaligrafi yang senada dengan yang telah disebutkan. Namun terminologi kaligrafi yang lebih lengkap diungkapkan oeh Syaikh Syamsuddin al-Akfani sebagai berikut: kaligrafi adalah suatu ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya, dan tata cara merangkainya menjadi sebuah tulisan yang tersusun atau apa yang ditulis diatas garis-garis, bagaimana cara menulisnya dan menentukan mana yang tidak perlu ditulis, menggubah ejaan yang perlu digubah dan menentukan cara bagaimana untuk menggubahnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hilyatulqalam.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hilyatulqalam.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hilyatulqalam.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hilyatulqalam.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hilyatulqalam.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hilyatulqalam.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hilyatulqalam.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hilyatulqalam.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hilyatulqalam.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hilyatulqalam.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hilyatulqalam.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hilyatulqalam.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hilyatulqalam.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hilyatulqalam.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hilyatulqalam.wordpress.com&amp;blog=6120535&amp;post=14&amp;subd=hilyatulqalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hilyatulqalam.wordpress.com/2009/01/11/pengertian-kaligrafi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a1c2659ff1abb6f9885395110d90d0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hilyatulqalam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
